My Blog List

Monday, 31 October 2016

Penjelasan Pengertian dan Fungsi Programan di Java

Kami akan menjelaskan beberapa pengertian dan fungsi – fungus yang ada dalam bahasa pemograman Java.

Package

KuisAp3

Package adalah sebagai tempat pengelompokan dan pengornisasian kelas-kelas dan interface yang sekelompok menjadi suatu unit tunggal dalam library. Dan kelas yang akan di panggil oleh compiler Java.
Dalam versi Java ada 6 package besar yaitu :
  •  java.io
  •  java.lang
  •  java.applet
  •  java.awt
  •  java.net
  •  java.util

Setelah kita selesai membuat package lalu kita membuat kelas , dengan cara

Public Class

public class KuisAp3 {
  String Nama;
  String Npm;
  String Kelas;

Di dalam public class, kita harus menyebut tipe data apa saja yg akan di gunakan dalam program yg akan di buat. Untuk contoh program di atas, maka kita hanya membutuhkan tipe data string. Pengertian dari tipe data string sendiri yaitu objek yg terdiri dari deretan karakter.
Cara membuat kelas dengan pilih salah satu Java Package yang ingin dijadikan tempat untuk membuat main class. yaitu dengan cara Klik Kanan pada salah satu Java Package lalu klik kanan pilih Java Class.

Method void

void belajarjava(){
    System.out.println("Belajar Java");
      }
void cetakAtribut(){
    System.out.println("Nama  = "+Nama);
    System.out.println("Npm    = "+Npm);
    System.out.println("Kelas  = "+Kelas);
      }

           Method void adalah method yang tidak mengembalikan nilai, method void jika dalam bahasa pemrograman terstruktur sama halnya dengan Prosedur. dan Method Non Void adalah method yang mengembalikan nilai, atau cara kerjanya sama dengan Fungsi jika dalam bahasa pemrograman terstruktur. Pada definisi metod, bermakna bahwa metod tersebut dapat diakses dari luar class yang bersangkutan 
Perintah system.out.println digunakan untuk menampilkan output ke monitor. Dan jika menggunakan perintah ini . baris yg pertama dengan yg kedua atau yg selanjutnya akan dibatasi dengan enter atau akan ditulis di baris selanjutnya,

 Public static 

public static void main(String[]args){
 KuisAp3 Taruna = new KuisAp3();
 Taruna.Nama="Taruna Nurwijaksana";
 Taruna.Npm="26115817";
 Taruna.Kelas="2KB08";
 Taruna.cetakAtribut();
 Taruna.belajarjava();
       }
}

          public static void main(String[]args) adalah
fungsi main dimana public pada bagian ini berarti
bahwa metode-metode dapat dipanggil didalam dan juga diluar kelas.
static sendiri berarti sama untuk seluruh instant dari kelas dan
void sendiri berarti bahwa metode tidak akan mengirim apapun setelah selesainya.
Fungsi main ini berisi argument yang diambil dari ruang eksekusi.

Dan ini hasil Source Code ...






Dan selesai hasil dari percobaan membuat program


Nama Anggota :

Taruna Nurwijaksana ( 26115817 )

Sunday, 16 October 2016

Membuat Hello world Sederhana Algoritma Pemograman 3


1)      Pertama kita membuka Aplikasi Java karena saya menggunakan Eclipse , Double klik pada ikon Eclipse di desktop.


2)      Setelah itu akan muncul jendela Eclipse itu sendiri ,





3)      Lalu kita klik “ Create A Hello World Application” , akan muncul jendela codingan






4)  Untuk membuat lembar kerja yang baru : Pilih "File -> New -> Java Project" kemudian beri nama file.



5)     Kemudian setelah kita klik “ Java Project “ , Beri nama sesuai keinginan kamu setelah selesai memberi nama lalu klik “ Finish “.




6)     Selanjutnya Buat Class Dengan Cara Pilih "File -> New -> Class “ , lalu beri nama pada Class ini kemudian pilih "finish" . saya memberi nama dengan “ Taruna “ .



7)      Kemudian setelah kita selesai membuat Class akan muncul jendela seperti ini ,





8)     ketikkan Source Code pada jendela Coding :


public class Taruna {

       public static void main(String[] args) {
              // TODO Auto-generated method stub
              System.out.println("Halo Teman");
              System.out.println("nama saya Taruna nurwijaksana");
              System.out.println("Saya Kuliah Di Gunadarma ");
       }

}

9)     Setelah selesai memasukkan codingan maka jalan kan dengan cara : Klik “ Run > pilih Run “ atau bisa juga dengan CTRL + F11


Dan jika berhasil akan keluar output pada

Jika salah akan
 muncul ikon Silang pada sisi kiri source code
Seperti pada gambar dan akan keluar error pada kolom “ Console “.




10)   Dan selesai Program Java sederhana dari eclipse






Keterangan :
Untuk membuat kelas kita harus mendeklarasikan public class dan namaclass
  • Class


Ketentuan dalam membuat nama class :
- Diawali dengan huruf besar
- Tida ada spasi
- Hanya terdiri dari huruf dan angka, tidak ada symbol



  • Main method
Java tidak akan bisa berjalan tanpa adanya main method ini di dalam kelasnya karena main method merupakan method untuk menjalankan program. Jangan lupa untuk menambahakan Block statement .
Java tidak akan bisa berjalan tanpa adanya main method ini di dalam kelasnya karena main method merupakan method untuk menjalankan program. Jangan lupa untuk menambahakan Block statement .
  • Statement











Statement merupakan baris code yang digunakan untuk menciptakan sebuah printah dalam program. Saya akan memberikan contoh statement sederhana yang memberikan perintah untuk mencetak suati String / kalimat .


  • Block statement
















Jadi block statement merupakan block yang batasi denagn kurung kurawal buka dan kurung kurawal tutup. Dimana Block statement ini digunakan untuk menuliskan perintah perintah yang akan dijalankan untuk membuat program

Friday, 15 April 2016

Soft Skill 3

Perbaiki wacana dibawah dengan EYD yang tepat!

Universitas dapat dikatakan sebagai suatu organisasi profesional, istilah organisasi memasukkannya ke dalam kategori yang sama dengan tipe organisasi lainnya seperti perusahaan, pabrik, atau pun ketentaraan tetapi dengan menambahkan kata sifat profesional universitas itu di bedakan dari tipe organisasi tersebut, yang termasuk kedalam kategori organisasi profesional adalah rumah sakit atau asosiasi pengacara .

Sifat khas organisasi profesional adalah tujuan utama dari organisasi dan hanya dapat dicapai oleh mereka yang mempunyai kualifikasi yang tertinggi dibidang ketentaraan untuk mencapai sasaran. Seperti halnya komandan mengerahkan anak buahnya, direktur perusahaan dibidang produksi yang mengerahkan buruh untuk mencapai hasil yang setinggi - tingginya tetapi berbeda halnya dengan  mendidik mahasiswa seperti dokter yang menyembuhkan pasiennya. Membela klien tidak dapat diserahkan kepada tenaga yang kurang pendidikannya ini harus dikerjakan oleh tenaga profesional yang mempunyai kualifikasi tertinggi .

Monday, 28 March 2016

Softskill 2 Bahasa Indonesia

Jenis-jenis tanda baca dan fungsinya

1. Tanda titik (.)Fungsi dan pemakaian tanda titik: 
§  Untuk mengakhiri sebuah kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan,
§  Pada akhir singkatan nama orang,
§  Diletakan pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat dan sapaan,
§  Pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum,
§  Dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar, dll.


2. Tanda Koma (,)
Fungsi dan pemakaian tanda koma antara lain:
§  Memisahkan unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilang,
§  Memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimat,
§  Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat, dll.


3. Tanda Titik Koma (;)
Fungsi dan pemakaian titik koma adalah:
§  Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis atau setara
§  Memisahkan kalimat yang setara didalam satu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.


4.  Tanda Titik Dua (:)
Tanda Titik Dua digunakan dalam hal-hal sebagai berikut:
§  Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
§  Pada kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
§  Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan
§  Di antara jilid atau nomor buku/ majalah dan halaman antara bab dan ayat dalam kitab suci, atau antara judul dan anak judul suatu karangan.


5. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung dipakai dalam hal-hal seperti berikut:
§  Menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris,
§  Menyambung unsur-unsur kata ulang
§  Merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing


6. Tanda Tanya (?)
Fungsi dan Kegunaan tanda tanya (?):
§  Tanda tanya selalunya dipakai pada setiap akhir kalimat tanya.
§ Tanda tanya yang dipakai dan diletakan didalam tanda kurung menyatakan bahwa  
§  kalimat yang dimaksud disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

7. Tanda Seru (!)
§ Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

8. Tanda Kurung ( )
Tanda kurung dipakai dalam ha-hal berikut:
§  Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan
§  Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian pokok pembicaraan
§  Mengapit angka atau huruf yang merinci satu seri keterangan


9. Tanda Garis Miring (/)
Fungsi dan kegunaan garis miring
§  Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat
§  Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, per atau nomor alamat


10. Tanda Petik Ganda (“…”)
Fungsi tanda petik adalah:
§  Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah atau bahan tertulis lain
§  Mengapit judul syair, karangan, bab buku apabila dipakai dalam kalimat
§  Mengapit istilah kalimat yang kurang dikenal


11. Tanda Petik Tunggal (‘..’)
Tanda Petik tunggal mempunyai fungsi: 
§  Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain
§  Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing


12. Tanda Pisah (–, —)
Ø  Tanda pisah em (—) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan
khusus di luar bangun kalimat.
§  Contoh: Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar.
Tanda pisah em (—) menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat
menjadi lebih tegas.
§  Contoh:
Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Ø  Tanda pisah en (–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan
atau di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.
§  Contoh:
· 1919–1921
· Medan–Jakarta
· 10–13 Desember 1999
Tanda pisah en (–) tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau bersama tanda
kurang (−).
§  Contoh:
· dari halaman 45 sampai 65, bukan dari halaman 45–65
· antara tahun 1492 dan 1499, bukan antara tahun 1492–1499
· −4 sampai −6 °C, bukan −4–−6 °C


13.  Tanda Elipsis (…)
Tanda elipsis dipergunakan untuk menyatakan hal-hal seperti beriku: 
§  Mengambarkan kalimat yang terputus-putus
§  Menunjukan bahwa satu petikan ada bagian yang dihilangkan


14. Tanda Kurung Siku ( {..} )
Tanda kurung siku digunakan untuk
:§  Mengapit huruf, kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada akhir kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain
§  Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.


15. Tanda Ulang (...2)
 Ditulis dengan menambahkan angka 2 atau 2 (pangkat 2) di akhir kata yang seharusnya diulang, menandakan kata tersebut diulang dua kali. Tanda penyingkatan ini tidak resmi. Kata yang berulang harus ditulis penuh.
Contoh:
• Buku-buku (bukan "buku2")
• Saudara-saudara (bukan "saudara2")
Tanda ulang singkatan  hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
Contoh:
• Anak2 tidak berangkat ke sekolah bersama2


16. Tanda Penyingkat (Apostrof) (‘)Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. 
Contoh: Pesawat selanjutnya ‘kan tiba setengah jam kemudian.  (‘kan = akan)
 24 April ’90.  (’90 = 1990)
 Malam ‘lah larut.  (‘lah = telah)







Daftar Pustaka

http://www.g-excess.com/jenis-jenis-tanda-baca-dan-fungsinya.html
http://dokumen.tips/documents/penggunaan-dan-fungsi-tanda-baca-beserta-contohnya.html
http://saska-albahiyy.blogspot.co.id/2012/12/penggunaan-tanda-baca-dalam-bahasa.html

Wednesday, 16 March 2016

Bahasa Indonesia

1.    Mengapa Bahasa Melayu diangkat menjadi Bahasa Indonesia ?

Bahasa melayu tidak hanya digunakan di Kepulauan Nusantara, tetapi juga digunakan hampir diseluruh Asia Tenggara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya Prasasti-prasasti kuno dari kerjaan di indonesia yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Melayu.
Bahasa melayu sebagai alat komunikasi dipakai dalam berbagai keperluan
tentu tidak seragam, tetapi akan berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi .

Ada empat faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu :
A.   Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
B.   Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
C.   Suku jawa, suku sunda dan suku suku yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
D.   Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

2.    Bagaimana proses terjadinya Bahasa Indonesia sampai menjadi Bahasa Negara ?

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran),
abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di “dunia timur”. Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Di tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur (“Komisi Bacaan Rakyat” – KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai “bahasa persatuan bangsa” pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
“Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.”
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.
Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia dapat dirinci sebagai berikut :

Tahun 1801 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini dimuat dalam Kitab Logat Melayu.

Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kayo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad (dewan rakyat), seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.

Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi pengokohan bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan.

Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.

Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik (ejaan soewandi) sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
Tanggal 28 Oktober – 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

Tanggal 28 Oktober – 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
Tanggal 21 – 26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

Tanggal 28 Oktober – 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Tanggal 28 Oktober – 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.

Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

3.    Jelaskan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan ?

Ragam Bahasa Lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. 
Ciri-ciri ragam bahasa lisan diantaranya  :
1.    Memerlukan kehadiran orang lain,
2.    Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap,
3.    Terikat ruang dan waktu dan
4.    Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara.

Adapun kelebihan ragam bahasa lisan diantaranya sebagai berikut :
1)    Dapat disesuaikan dengan situasi.
2)    Faktor  efisiensi.
3)    Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak pembicara.
4)    Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya.
5)    Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur.
6)    Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif.
Sedangkan kelemahan ragam bahasa lisan diantaranya sebagai berikut:
1)    Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-frase sederhana.
2)    Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.
3)    Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan secara baik.
4)    Aturan-aturan bahasa yang dilakukan seringkali menggunakan ragam tidak formal.

Ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual atau bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata. Cirri-ciri ragam bahasa tulis adalah sebagai berikut :
1.    Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
2.    Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap.
3.    Tidak terikat ruang dan waktu
4.    Dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan.

Ragam bahasa lisan, ragam bahasa tulis juga memiliki kelemmahan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari ragam bahasa tulis diantaranya :

—  Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan menyenangkan.
—  Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
—  Sebagai sarana memperkaya kosakata.
—  Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca.

Sedangkan kelemahan dari ragam bahasa tulis siantaranya sebagai berikut:

—  Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
—  Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.
—  Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.

Berdasarkan beberapa ciri serta kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh ragam bahasa lisan maupun tulis, berikut ini dapat kita tarik beberapa perbedaan diantara kedua ragam bahasa tersebut.
•         Bahasa lisan didukung isyarat paralinguistik.
•         Bahasa tulis dapat menyimpan informasi tanpa bergantung pada ruang dan waktu.
•         Bahasa tulis dapat memindahkan bahasa dari bentuk oral ke bentuk visual, memungkinkan kata-kata lepas dari konteks aslinya.
•         Sintaksis bahasa lisan kurang terstruktur dibandingkan dengan sintaksis bahasa tulis.
•         Bahasa tulis banyak mengandung penanda metalingual yang menghubungkan antara frasa-klausa.
•         Struktur bahasa tulis umumnya subjek-predikat, bahasa lisan memiliki struktur ‘topik-sebutan’ (topic-comment)(Givon).
•         Bahasa lisan jarang menggunakan konstruksi pasif.
•         Bahasa lisan sering mengulangi bentuk sintaksis.
•         Bahasa lisan dapat diperhalus sambil terus berbicara.

4. Apa yang dimaksud slogan “ Gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar” ?

Ungkapan “Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” Kita tentu sudah sering mendengar dan membaca ungkapan tersebut. Permasalahannya adalah pengertian apa yang terbentuk dalam benak kita ketika mendengar ungkapan tersebut? Apakah sebenarnya ungkapan itu? Apakah yang dijadikan alat ukur (kriteria) bahasa yang baik? Apa pula alat ukur bahasa yang benar?
Bahasa yang Baik
Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita. Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai jembatan, misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh berbeda.
Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting
Bahasa yang Benar
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan bahasa. Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata, harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis. Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam penggunaan bahasa tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami kesulitan dalam bermain dengan bahasa.
Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah ini meliputi aspek (1) tata bunyi (fonologi), (2)tata bahasa (kata dan kalimat), (3) kosa kata (termasuk istilah), (4), ejaan, dan (5) makna. Pada aspek tata bunyi, misalnya kita telah menerima bunyi f, v dan z. Oleh karena itu, kata-kata yang benar adalah fajar, motif, aktif, variabel, vitamin, devaluasi, zakat, izin, bukan pajar, motip, aktip, pariabel, pitamin, depaluasi, jakat, ijin. Masalah lafal juga termasuk aspek tata bumi. Pelafalan yang benar adalah kompleks, transmigrasi, ekspor, bukan komplek, tranmigrasi, ekspot.
Pada aspek tata bahasa, mengenai bentuk kata misalnya, bentuk yang benar adalah ubah, mencari, terdesak, mengebut, tegakkan, dan pertanggungjawaban, bukan obah, robah, rubah, nyari, kedesak, ngebut, tegakan dan pertanggung jawaban. Dari segi kalimat pernyataan di bawah ini tidak benar karena tidak mengandung subjek. Kalimat mandiri harus mempunyai subjek, predikat atau dan objek.
Artinya bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan.


Daftar Pustaka